Kebudayaan
Suku Jawa “Warak Ngendog” from semarang.
WARAK NGENDOG, binatang mitologis ini digambarkan sebagai
simbol pemersatu tiga etnis mayoritas yang ada di Semarang Bagian-bagian
tubuhnya terdiri dari Naga (Cina), Buraq (Arab) dan Kambing (Jawa). Hewan
imajiner ini biasanya dijadikan maskot dalam festival Dugderan yang
dilaksanakan beberapa hari sebelum bulan puasa.
Selama ini Warak Ngendog dipercaya sebagai
buatan waliyullah. Namun pada kenyataannya, belum ada yang menyebutkan secara
konkrit siapa sebenarnya penciptanya. Ia bahkan menjadi misteri panjang, hingga
detik ini. Sejarahwan Semarang Nio Joe Lan, dalam karya klasiknya "Riwajat
Semarang" (1936), dan Amen Budiman dalam serialnya "Semarang
Sepanjang Jalan Kenangan" (1976), pun tidak pernah menyebut siapa pencipta
warak dan waktu penciptaannya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Amen
Budiman, diperkirakan binatang rekaan yang menjadi maskot acara itu mulai
dikenal masyarakat pada akhir abad ke-19. Asumsinya ini dilihat dari kemunculan
mainan warak ngendog dalam setiap perayaan megengan atau dugderan. Tepatnya
pada masa pemerintahan Kanjeng Bupati Semarang periode 1881-1897, Ario
Purboningrat.
Dalam esainya, Budayawan Semarang,
Djawahir Muhammad, pun sependapat dengan pendapat Amen. Menurut Djawahir,
kemunculan warak sebagai benda budaya atau karya seni kriya khas masyarakat
Semarang bisa didekati secara ilmiah, dengan menunjuk penampilan kali pertama
Pasar Malam Sentiling di Mugas, yakni pada tahun 1936. Pada saat itu, keramaian
tersebut digelar untuk menyambut ulang tahun ke-100 Ratu Wilhelmina.
Di masyarakat, tersebar pula folklor Warak
Ngendok sebagai binatang serupa badak yang ditemukan oleh warga. Saat itu
sejumlah warga tengah melakukan babat alas di hutan yang kini menjadi Kampung
Purwodinatan. Dari cerita tersebut, kemudian warga di kampung itu banyak yang
membuat kerajinan Warak Ngendog dan dijual pada saat Dugderan.
FILOSOFI
Warak Ngendog memiliki makna filosofi
yang selalu relevan sebagai pedoman hidup manusia pada zaman apapun. Wujud makhluk
rekaan yang merupakan gabungan tiga simbol etnis mencerminkan persatuan atau
akulturasi budaya di Semarang. Konon ciri khas bentuk yang lurus dari Warak
Ngendog menggambarkan citra warga Semarang yang terbuka, lurus, dan berbicara
apa adanya, sehingga tak ada perbedaan antara ungkapan hati dengan ungkapan
lisan.
Kata Warak berasal dari bahasa Arab yang
berarti suci, sedangkan kata ngendog atau telur disimbolkan sebagai hasil
pahala yang didapat seseorang setelah menjalani proses suci berpuasa. Hakekatnya,
hewan ini merupakan simbol nafsu manusia. Badannya yang bersisik, mulutnya
menganga dan bertaring, serta bermuka seram menggambarkan nafsu yang harus
dikalahkan dengan puasa.
Sayangnya, seiring perkembangan zaman,
wujud Warak Ngendog dibuat secara asal-asalan tanpa berpedoman dari pakem
filosofisnya. Barangkali para pengrajin berusaha mengotak-atik warak tersebut
agar terkesan berbeda, namun hal ini justru menghilangkan keelokan makna
simbol-simbol di tubuh Warak Ngendog.
Sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2012/07/21/595/Sekilas-Menelisik-Warak-Ngendog
http://www.foto.detik.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar