Teori produksi :
Yang
dimaksud dengan teori produksi adalah teori yang menjelaskan hubungan antara
tingkat produksi dengan jumlah faktor-faktor produksi dan hasil penjualan
outputnya.
Di dalam menganalisis teori produksi, kita mengenal 2 hal:
1. Produksi jangka pendek, yaitu bila
sebagian faktor produksi jumlahnya tetap dan yang lainnya berubah (misalnya
jumlah modal tetap, sedangkan tenaga kerja berubah).
2. Produksi jangka panjang, yaitu semua
faktor produksi dapat berubah dan ditambah sesuai kebutuhan.
Bila seorang produsen atau pengusaha dalam melakukan proses
produksi untuk mencapai tujuannya harus menentukan dua macam keputusan :
1. Berapa output yang harus diproduksikan.
2. Berapa dan dalam kombinasi bagaimana
faktor-faktor produksi (input) dipergunakan.
Pengertian Produksi
Produksi merupakan konsep arus (flow concept), bahwa
kegiatan produksi diukur dari jumlah barang-barang atau jasa yang dihasilkan
dalam suatu periode waktu tertentu, sedangkan kualitas barang atau jasa yang
dihasilkan tidak berubah.
Macam-macam faktor produksi dibagi menjadi empat yaitu:
a.Faktor produksi lahan
Tanah sebagai salah
satu faktor produksi merupakan pabrik hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana
produksi berjalan dan darimana hasil produksi ke luar. Faktor produksi tanah
mempunyai kedudukan paling penting. Hal ini terbukti dari besarnya balas jasa
yang diterima oleh tanah dibandingkan faktor-faktor produksi lainnya (Mubyarto,
1995).Potensi ekonomi lahan pertanian organik dipengaruhi oleh sejumlah faktor
yang berperan dalam perubahan biaya dan pendapatan ekonomi lahan. Setiap lahan
memiliki potensi ekonomi bervariasi (kondisi produksi dan pemasaran), karena
lahan pertanian memiliki karakteristik berbeda yang disesuaikan dengan kondisi
lahan tersebut. Maka faktor-faktornya bervariasi dari satu lahan ke lahan yang
lain dan dari satu negara ke negara yang lain. Secara umum, semakin banyak
perubahan dan adopsi yang diperlukan dalam lahan pertanian, semakin tinggi pula
resiko ekonomi yang ditanggung untuk perubahan-perubahan tersebut. Kemampuan
ekonomi suatu lahan dapat diukur dari keuntungan yang didapat oleh petani dalam
bentuk pendapatannya. Keuntungan ini bergantung pada kondisi-kondisi produksi
dan pemasaran. Keuntungan merupakan selisih antara biaya (costs) dan hasil
(returns).
b.Faktor Modal ( Sarana Produksi)
Dalam kegiatan proses
produksi pertanian organik, maka modal dibedakan menjadi dua macam yaitu modal
tetap dan tidak tetap. Perbedaan tersebut disebabkan karena ciri yang dimiliki
oleh model tersebut. Faktor produksi seperti tanah, bangunan, dan mesin-mesin
sering dimasukkan dalam kategori modal tetap. Dengan demikian modal tetap
didefinisikan sebagai biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi yang tidak
habis dalam sekali proses produk tersebut .Peristiwa ini terjadi dalam waktu
yang relative pendek dan tidak berlaku untuk jangka panjang(Soekartawi,2003).
Sebaliknya dengan modal tidak tetap atau modal variabel adalah biaya yang
dikeluarkandalamprosesproduksi dan habis dalam satu kali dalam proses produksi
tersebut, misalnya biaya produksi yang dikeluarkan untuk membeli benih, pupuk,
obat-obatan, atau yang dibayarkan untuk pembayaran tenagakerja. Besar kecilnya
modal dalam usaha pertanian tergantung dari :
1)Skala usaha, besar
kecilnya skala usaha sangat menentukan besar-kecilnya modal yang dipakai makin
besar skala usaha makin besar pula modal yang dipakai.
2)Macam komoditas,
komoditas tertentu dalam proses produksi pertanian juga menentukan
besar-kecilnya modal yang dipakai.
3)Tersedianya kredit
sangat menentukan keberhasilan suatu usahatani (Soekartawi,2003).
c.Faktor Tenaga Kerja
Faktor produksi
tenaga kerja, merupakan faktor produksi yang penting dan perlu diperhitungkan
dalam proses produksi dalam jumlah yang cukup bukan saja dilihat dari
tersedianya tenaga kerja tetapi juga kualitas dan macam tenaga kerja perlu pula
diperhatikan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada faktor produksi
tenagakerja adalah :
1)Tersedianya tenaga
kerja Setiap proses produksi diperlukan tenaga kerja yang cukup memadai. Jumlah
tenaga kerja yang diperlukan perlu disesuaikan dengan kebutuhan sampai tingkat
tertentu sehingga jumlahnya optimal. Jumlah tenagakerja yang diperlukan ini
memang masih banyak dipengaruhi dan dikaitkan dengan kualitas tenagakerja,
jenis kelamin, musim dan upah tenagakerja.
2)Kualitas tenaga
kerja Dalam proses produksi, apakah itu proses produksi barang-barang pertanian
atau bukan, selalu diperlukan spesialisasi. Persediaan tenagakerja spesialisasi
ini diperlukan sejumlah tenagakerja yang mempunyai spesialisasi pekerjaan tertentu,
dan ini tersedianya adalah dalam jumlah yang terbatas.
3)Jenis kelamin
Kualitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, apalagi dalam proses
produksi pertanian. Tenaga kerja pria mempunyai spesialisasi dalam bidang
pekerjaan tertentu seperti mengolah tanah, dan
tenagakerjawanitamengerjakantanam.
4)Tenaga kerja
musiman Pertanian ditentukan oleh musim, maka terjadilah penyediaan tenaga
kerja musiman dan pengangguran tenaga kerja musiman.
d.Faktor Menejemen
Manajemen terdiri
dari merencanakan, mengorganisasikan dan melaksanakan serta mengevalusi suatu
proses produksi. Karena proses produksi ini melibatkan sejumlah orang (tenaga
kerja) dari berbagai tingkatan, maka manajemen berarti pula bagaimana mengelola
orang-orang tersebut dalam tingkatan atau dalam tahapan proses produksi
(Soekartawi, 2003). Faktor manajemen dipengaruhi oleh:
1)tingkatpendidikan
2)Pengalaman
berusahatani
3)Skala usaha
4)Besar kecilnya
kredit
5)Macam komoditas
Pertama, dengan pendekatan biaya yaitu penetapan harga biaya
plus, penetapan harga mark-plus dan penetapan harga break even. Kedua dengan
pendekatan pasar atau persaingan.
Menentukan Laba
1. Penetapan Harga Biaya Plus (Cost-Plus Pricing Method)
Kalau anda menggunakan metode ini, anda menentukan harga
jual per unit produk anda dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit
ditambah jumlah tertentu untuk menutup laba yang anda kehendaki pada unit
tersebut, atau disebut marjin. Harga jual produk dapat anda hitung dengan rumus
:
Biaya Total + Marjin = Harga Jual
Contohnya seperti ini. Misalkan anda punya usaha jus buah
dan mendapatkan order sebanyak 100 gelas untuk sebuah pesta perpisahan. Biaya
yang anda keluarkan untuk memproduksi jus buah tersebut diperkirakan sebanyak
400.000,00 dengan perincian :
Biaya bahan baku : Rp. 250.000,00
Biaya tenaga kerja : Rp. 100.000,00
Biaya lain-lain seperti penyusutan alat, sewa tempat, dsb :
Rp. 50.000,00
Jika anda menginginkan laba sebesar 15% dari biaya total,
maka : Harga total = Biaya Total + Laba = Rp. 400.000,00 + (15% x Rp 400.000,00)
= Rp. 460.000,00. Dengan demikian untuk setiap jus yang anda jual, harganya
sebesar Rp. 4.600,00.
2. Penetapan Harga Mark-Up (Mark-Up Pricing Method)
Pada intinya, penetapan harga mark-up ini hampir sama dengan
penetapan harga biaya plus. Para pedagang atau perusahaan perdagangan lebih
banyak menggunakan penetapan harga mark-up ini.
Caranya lebih sederhana. Anda membeli barang-barang dagangan
kemudian harga jualnya anda tentukan setelah menambah harga beli dengan
sejumlah mark-up, seperti rumus di bawah ini:
Harga Beli + Mark Up = Harga Jual
Jadi mark-up ini merupakan kelebihan harga jual di atas
harga belinya. Contohnya seperti ini. Anggap anda punya toko sepatu adventure.
Anda beli sepatu adventure merk “X” seharga 300 ribu. Kemudian anda ingin
keuntungan 50 ribu, jadinya anda jual 300 ribu + 50 ribu = 350 ribu. Simpel
kan?
Jadi keuntungannya dapat anda peroleh dari sebagian mark-up
tersebut. Mengapa hanya sebagian? Karena anda juga harus mengeluarkan sejumlah
biaya “lain-lain” seperti transport untuk beli sepatu yang anda ambilkan dari
sebagian mark-up.
sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar