Mencegah Matahari Kembar
Keduanya sesungguhnya tunggal sampai karakter yang berbeda memisahkan
mereka di benak khalayak. Muncullah istilah matahari kembar. Itulah yang
terjadi pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla
pada pemerintahan 2004-2009.
SBY dikenal sebagai ahli strategi dan pemikir di kalangan militer yang
lebih acap mengutamakan prinsip coba olah secara komprehensif atas berbagai
ihwal yang dihadapinya. Sementara JK seorang saudagar pengandal intuisi gerakan
lapangan dengan badan lincah meliuk. SBY-JK ibarat rem dan gas di pucuk
pemerintahan. Di mata publik, SBY banyak rapat, JK kegesitan.
Lima tahun kemudian, JK kembali ke Istana mendampingi presiden terpilih
Joko Widodo. Ingatan publik kembali ke periode JK mendampingi SBY. Akankan lagi
terbit matahari kembar di Indonesia?
Latar sama
Jokowi dan JK berasal dari latar yang sama: pengusaha. Ciri-ciri umum
pengusaha bertindak cepat, logis, praktis, efisien, dan mengutamakan hasil.
Keduanya berkarakter utama sama: badan mudah bergerak kian ke mari, kaki lincah
melangkah, penuh selidik dan mahir menggeledah hal-hal detail.
Jokowi-JK tak terbiasa menikmati pesona keprotokoleran dan hierarki
birokrasi. Lebih penting lagi, keduanya tak memiliki keterampilan pesona
panggung untuk mengesankan orang lain dan kurang mahir mendandani diri dengan
pelbagai aksesori gerak tubuh.
Baik Jokowi maupun JK sangat
defisit dalam kemampuan teatrikal podium atau panggung. Namun, mereka sangat
surplus dalam gerak di lapangan. Mereka tak bertalenta memilih diksi yang
diatur dan ditata sedemikian rupa agar terkesan baik.
Jokowi-JK bertalenta dengan
diksi umum yang dipakai semua lapisan rakyat. Talenta keduanya berbahasa
orisinal. Tiada kedok, tiada saru.
Kesamaan ini menempatkan mereka berdua sebagai sebuah sekutu, bukan
sekadar pasangan politik. Mereka bersama karena ada kesamaan. Mereka bersama
karena memang bisa dipersamakan.
Singkatnya, mereka tak beda dalam tampilan dan pendekatan atas misi dan
pekerjaan yang diembankan ke pundak mereka. Di sini tak ada cara pandang dan
metode bersilangan.
Latar ini membangun fondasi pangkalan tempat memulai secara bersama.
Dalam level aplikasi, misalnya, kedua pemimpin ini setuju agar segera membangun
infrastruktur besar-besaran: bangun pembangkit listrik, jalan, jembatan,
irigasi, dan sebagainya. Mereka dipersamakan dengan visi konkret dan langkah
jelas tentang apa yang jadi prioritas primer dan sekunder.
Nihil rivalitas
Faktor berikut yang membuat tak terbitnya matahari kembar kelak adalah
kedua saudagar ini bukan pemimpin partai politik yang saat pemilu berkompetisi.
Rivalitas di antara mereka nihil.
Absennya rivalitas ini meniadakan satu sama lain mengatakan, ”He stole
my show.” Tak perlu lagu kenangan masa silam: ”Jangan ada dusta di antara
kita”.
Apabila segalanya berjalan mulus ke depan, pada saat JK mengakhiri masa
baktinya pada 2019, ia berusia 77. Sebuah usia yang disadari betul, bahkan
telah dideklarasikannya, tak mungkin lagi berkeinginan menduduki jabatan publik
setelah itu.
Posisi ini merupakan polis asuransi bagi Jokowi tak perlu gelisah
diikuti bayang-bayang JK kelak, membuat keduanya kelak bergandeng tangan dan
bahu-membahu mengendalikan kemudi bangsa.
Pengalaman menjalankan roda pemerintahan dari level daerah yang
dimiliki Jokowi digandengkan dengan pengalaman pemerintahan di level pusat yang
dipunyai JK adalah sebuah kombinasi saling memerlukan dan bergantung. Bukan
pengalaman yang berbeda, lalu bersilangan dan konfrontatif.
Dalam sejarahnya, JK adalah tokoh yang memelopori otonomi daerah lewat
Tap MPR ketika beliau duduk sebagai anggota MPR Utusan Daerah, sementara Jokowi
adalah pelaku pelaksanaan otonomi daerah di Kota Solo. Maka, dalam menjalankan roda
pemerintahan pada era otonomi daerah sekarang ini, Jokowi-JK merupakan duet
tangguh. Mereka saling butuh, bukan saling tohok.
Faktor lain yang membuat pasangan ini tidak berpotensi melahirkan
konflik: keduanya setidaknya hingga saat ini media darling. Status ini membuat
tidak ada di antara mereka yang menyimpan rasa sesak napas karena yang satu
banyak diberitakan, sementara yang satu lagi sepi dari peliputan.
Keduanya obyek kamera, sumber tulisan, dan medan magnet bagi peliputan.
Fakta yang bertaburan selama ini, keretakan duet persekutuan banyak dipicu
karena keterpihakan media kepada salah satunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar